Gaya Hidup Muslim Masa Kini

Roda kehidupan menggelending begitu dasyat, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah merubah “wajah” kehidupan manusia di muka bumi. Begitupun dengan pola hidup kehidupan muslim saat ini telah mengalami pergeseran menuju kehidupan yang lebih moden dan lebih maju
Ada dua hal yang umumnya dicari oleh manusia dalam hidup ini. Yang pertama ialah kebaikan (al-khair), dan yang kedua ialah kebahagiaan (as-sa’adah). Hanya saja setiap orang mempunyai pandangan yang berbeda-beda ketika memahami hakikat keduanya. Perbedaan inilah yang mendasari munculnya bermacam ragam gaya hidup manusia.
Tentu bagi seorang muslim sudah menjadi kewajiban bahwa gaya hidup yang dilakukannya harus islami Gaya hidup islami berarti menjalani kehidupan dengan tata cara yang telah digariskan oleh islam yang tertuang dalam Al-Quran dan As-Sunnah. Bergaya hidup Islami hukumnya wajib atas setiap Muslim, lawan dari gaya hidup islami adalah gaya hidup jahili dan hukumnya adalah haram.
Namun realita saat ini berkata lain, kita sering melihat kenyataan banyak dari orang-orang muslim yang bergaya hidup “kebarat-baratan”. Hal ini membuat kita sangat prihatin dan sangat menyesal, sebab justru gaya hidup jahili (yang diharamkan) itulah yang melingkupi sebagian besar umat Islam. Fenomena ini persis seperti yang pernah disinyalir oleh Rasulullah Saw. Beliau bersabda yang artinya: “Tidak akan terjadi kiamat sebelum umatku mengikuti jejak umat beberapa abad sebelumnya, sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta”. Ada orang yang bertanya, “Ya Rasulullah, mengikuti orang Persia dan Romawi?” Jawab Beliau, “Siapa lagi kalau bukan mereka?” (HR. Al-Bukhari dari Abu Hurairah z, shahih).
Hadits tersebut menggambarkan suatu zaman di mana sebagian besar umat Islam telah kehilangan kepribadian Islamnya karena jiwa mereka telah terisi oleh jenis kepribadian yang lain. Mereka kehilangan gaya hidup yang hakiki karena telah mengadopsi gaya hidup jenis lain. Kiranya tak ada kehilangan yang patut ditangisi selain dari kehilangan kepribadian dan gaya hidup Islami. Sebab apalah artinya mengaku sebagai orang Islam kalau gaya hidup tak lagi Islami malah persis seperti orang kafir? Inilah bencana kepribadian yang paling besar.
Larangan mengikuti / Menyerupai gaya hidup .
“Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka” (HR. Abu Dawud dan Ahmad, dari Ibnu Abbas Radhiallaahu anhu hasan). Menurut hadits tersebut orang yang gaya hidupnya menyerupai umat yang lain (tasyabbuh) hakikatnya telah menjadi seperti mereka.
Al-Munawi menambahkan bahwa tasyabuh atau menyerupai suatu kaum artinya secara lahir berpakaian seperti pakaian mereka, berlaku/ berbuat mengikuti gaya mereka dalam pakaian dan adat istiadat mereka”.
Satu di antara berbagai bentuk tasyabbuh yang sudah membudaya dan mengakar di masyarakat kita adalah pakaian Muslimah. Mungkin kita boleh bersenang hati bila melihat berbagai mode busana Muslimah telah mulai bersaing dengan mode-mode busana jahiliyah. Hanya saja masih sering kita menjumpai busana Muslimah yang tidak memenuhi standar seperti yang dikehendaki syari’at.
Busana-busana itu masih mengadopsi mode ekspose aurat sebagai ciri pakaian jahiliyah. Adapun yang lebih memprihatinkan lagi adalah busana wanita kita pada umumnya, yang mayoritas beragama Islam ini, nyaris tak kita jumpai mode pakaian umum tersebut yang tidak mengekspose aurat. Kalau tidak memper-tontonkan aurat karena terbuka, maka ekspose itu dengan menonjolkan keketatan pakaian. Bahkan malah ada yang lengkap dengan dua bentuk itu; mempertontonkan dan menonjolkan aurat. Belum lagi kejahilan ini secara otomatis dilengkapi dengan tingkah laku yang -kata mereka- selaras dengan mode pakaian itu. Na’udzubillahi min dzalik.
Tentu dengan melihat realita seperti ini maka tidak ada alasan bagi kita untuk tinggal diam. Sebab di luar sana sudah nyaris seluruh aspek kehidupan umat bertasyabbuh kepada orang-orang kafir yang jelas-jelas bergaya hidup jahili.
Krisis yang terjadi di Indonesia beberapa tahun yang lalu sampai saat ini, bukan saja krisis moneter tapi juga krisis kepercayaan terhadap agama Islam oleh penganutnya sendiri. Krisis kepercayaan terhadap kebenaran Islam sebagai agama universal dan paripurna tidak dapat dipungkiri telah melanda banyak orang yang mengaku dirinya beragama Islam. Ini terbukti dengan gaya hidup mereka yang dilihat secara lahiriyah masih ada saja kesamaan dengan gaya hidup orang-orang yang nonMuslim.
Boleh jadi semua itu akibat ketidaktahuan atau ketidak fahaman. Namun ketidak tahuan itu adalah akibat bahwa kebanyakan kaum muslimin telah kehilangan kepercayaan terhadap Islam, sehingga mereka cenderung mengabaikan ajaran-ajarannya. Mempelajari ilmu-ilmu Islam dianggap ketinggalan jaman.Banyak orang Islam, bahkan kalangan akademik yang beranggapan mempelajari ilmu-ilmu Islam tanpa dicampur dengan teori-teori ilmu barat, suatu kemunduran. Tidak sesuai dengan perkembangan jaman dan seterusnya. Bukankah itu krisis kepercayaan terhadap Islam?
Maka sudah saatnya kita tersadar dengan fenomena-fenomena yang terjadi pada saat ini. Back to Al-Quran and As-Sunnah adalah jawaban dari semua itu, sebab keduanya (Al-Quran dan As-Sunnah) adalah panduan gaya hidup seorang muslim kapanpun dan dimanapun.

3 comments:

Anonymous said...

Ass.Wr.Wb.Kpd dik Okie,Sy rasa gy hdp bergntung dng cr pikir seseorang.Cr pikir terbentuk dr pengalaman hidupnya.Jd sebenarnya menurut sy hidup itu harus dinikmati,krn kt manusia.Kita hdp didunia yg nyata bkn dialam lain yg hrs kt jalani.seorang pengusaha hrslah bergaya hidup pengusaha bukan sufi unt bertahan hidup dimana kita tahu prinsip ekonomi mencari untung sebanyak- banyaknya.Kalau ia hdp gaya sufi ia takkan berhasil jd pengusaha,bukankah Nabi bersabda bahwa "Allah tidak menciptakan manusia dengan dua hati".kalau begitu dng prinsip ekonomi yg demikian bgmana ia bertahan dijln Allah?.Bukankah lg hidup adalah persaingan.jd ia hrslah hdp gaya pengusaha.Okie pun tahu bukan, bahwa Nabi,sahabat mereka hdp unt akhirat bkn dunia(beribadah)jd perhatian mereka hanya pd akhirat.contoh peradaban yg dihasilkan Ka'bah yg diperluas pd zaman Umar tp tdk membangun menara pisa spt peradaban dunia brt.keduanya berbeda satu unt akhirat sdgkan satulagi unt dunia.jd bgmana manusia bergaya hidup akhirat sdgkan jasadnya didunia? tolong dik Okie jelaskan pd sy yg bingung dng gaya hidup islami.dik Okie sering mengatakan jahili yg artinya bodoh.pd zaman sekarang yg bodoh itu umat islam bukan barat/kafir mereka hidup maju.jd menurut sy hidup itu haruslah dinikmati krn manusia hatinya cuma satu bukan dua,kemana dia cenderung kalau dunia mk gy hidupnya duniawi,kalau akhirat mk gaya hidupnya akhirat.Terima kasih Ass.Wr.Wb.

Edo Aldiano said...

bagaimana dengan Abdurahman bin auf
Abdurahman bin auf ke-zuhud-annya
dan gaya hidup islaminya juga
bisa disamakan dengan sufi...
tapi di sisi lain Abdurahman bin auf adalah seorang pengusaha /entrepreneur yang sukses dan kaya raya...
dia juga mencari untung yang sebanyak - banyaknya dengan cara yang baik, sangat efektif dan dibenarkan dalam islam dalam kisahnya ...
he he he...
ingat, walaupun berkelakuan seperti sufi...
setiap manusia pasti bisa kok kaya...
demi memakmurkan dirinya , keluarganya, saudaranya bahkan agama dan negaranya....

Edo Aldiano said...

bagaimana dengan Abdurahman bin auf
Abdurahman bin auf ke-zuhud-annya
dan gaya hidup islaminya juga
bisa disamakan dengan sufi...
tapi di sisi lain Abdurahman bin auf adalah seorang pengusaha /entrepreneur yang sukses dan kaya raya...
dia juga mencari untung yang sebanyak - banyaknya dengan cara yang baik, sangat efektif dan dibenarkan dalam islam dalam kisahnya ...
he he he...
ingat, walaupun berkelakuan seperti sufi...
setiap manusia pasti bisa kok kaya...
demi memakmurkan dirinya , keluarganya, saudaranya bahkan agama dan negaranya....